Kritik Pelatihan Keterampilan Lapas Surabaya: Solusi Mandiri atau Formalitas?
Warga binaan di Lapas Kelas I Surabaya tengah mengikuti program pelatihan keterampilan produktif guna membekali diri menghadapi masa depan setelah bebas dari masa tahanan.Langkah ini diambil sebagai upaya sistematis untuk menekan angka kriminalitas berulang dengan memberikan modal keahlian teknis kepada para narapidana.Namun, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana program di balik jeruji ini mampu menjamin transisi ekonomi yang mulus bagi mereka di tengah stigma sosial yang masih kental.Kegiatan ini meliputi berbagai jenis pelatihan kerja yang dirancang untuk menciptakan kemandirian finansial bagi warga binaan.Pihak otoritas menekankan bahwa produktivitas di dalam lapas adalah kunci utama transformasi perilaku.Sayangnya, keberlanjutan ekonomi mereka seringkali terbentur pada sulitnya akses modal dan keengganan sektor industri untuk mempekerjakan mantan narapidana.Pelatihan ini tidak boleh sekadar menjadi pajangan prestasi lembaga pemasyarakatan tanpa adanya evaluasi mendalam terhadap daya serap pasar kerja.Integrasi antara pembekalan di dalam lapas dengan pendampingan pasca-bebas menjadi syarat mutlak agar keterampilan yang didapat tidak berakhir sia-sia.Publik menanti bukti nyata apakah program ini benar-benar mampu mengubah nasib warga binaan atau hanya menjadi rutinitas administratif semata.
SIDOARJO - Warga binaan di Lapas Kelas I Surabaya tengah mengikuti program pelatihan keterampilan produktif guna membekali diri menghadapi masa depan setelah bebas dari masa tahanan.
Langkah ini diambil sebagai upaya sistematis untuk menekan angka kriminalitas berulang dengan memberikan modal keahlian teknis kepada para narapidana.
Namun, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana program di balik jeruji ini mampu menjamin transisi ekonomi yang mulus bagi mereka di tengah stigma sosial yang masih kental.
Kegiatan ini meliputi berbagai jenis pelatihan kerja yang dirancang untuk menciptakan kemandirian finansial bagi warga binaan.
Pihak otoritas menekankan bahwa produktivitas di dalam lapas adalah kunci utama transformasi perilaku.
Sayangnya, keberlanjutan ekonomi mereka seringkali terbentur pada sulitnya akses modal dan keengganan sektor industri untuk mempekerjakan mantan narapidana.
Pelatihan ini tidak boleh sekadar menjadi pajangan prestasi lembaga pemasyarakatan tanpa adanya evaluasi mendalam terhadap daya serap pasar kerja.
Integrasi antara pembekalan di dalam lapas dengan pendampingan pasca-bebas menjadi syarat mutlak agar keterampilan yang didapat tidak berakhir sia-sia.
Publik menanti bukti nyata apakah program ini benar-benar mampu mengubah nasib warga binaan atau hanya menjadi rutinitas administratif semata.
Berita Terkait
Kritik Gaya Hidup Jakarta: Tips Atasi Culture Shock Perantau Samarinda
Harga Pangan 18 Juni Melonjak: Bawang Merah Rp59.150, Cabai Rawit Rp91.800