Parade Seribu Dulang Lombok Timur: Antara Tradisi dan Seremonial
Wakil Bupati Lombok Timur, Moh Edwin Hadiwijaya, memimpin Parade Seribu Dulang dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagai upaya formalitas untuk melestarikan tradisi penyajian makanan khas Sasak.Meskipun diklaim sebagai ikon budaya daerah, kegiatan yang melibatkan massa besar ini sering kali dikritik karena terjebak dalam aspek seremonial tahunan tanpa adanya strategi pelestarian nilai tradisi yang lebih mendalam di tingkat akar rumput.Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya fokus pada kemegahan parade yang menghabiskan anggaran besar, melainkan juga mulai mengintegrasikan nilai-nilai budaya tersebut ke dalam kebijakan pendidikan dan ekonomi kreatif yang lebih konkret bagi masyarakat luas.Ujian sebenarnya bagi pemerintah adalah memastikan bahwa Parade Seribu Dulang bukan sekadar ajang pencitraan pejabat, melainkan mampu memberikan edukasi budaya yang berkelanjutan agar generasi muda benar-benar memahami filosofi di balik tradisi tersebut.
LOMBOK TIMUR - Wakil Bupati Lombok Timur, Moh Edwin Hadiwijaya, memimpin Parade Seribu Dulang dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagai upaya formalitas untuk melestarikan tradisi penyajian makanan khas Sasak.
Meskipun diklaim sebagai ikon budaya daerah, kegiatan yang melibatkan massa besar ini sering kali dikritik karena terjebak dalam aspek seremonial tahunan tanpa adanya strategi pelestarian nilai tradisi yang lebih mendalam di tingkat akar rumput.
Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya fokus pada kemegahan parade yang menghabiskan anggaran besar, melainkan juga mulai mengintegrasikan nilai-nilai budaya tersebut ke dalam kebijakan pendidikan dan ekonomi kreatif yang lebih konkret bagi masyarakat luas.
Ujian sebenarnya bagi pemerintah adalah memastikan bahwa Parade Seribu Dulang bukan sekadar ajang pencitraan pejabat, melainkan mampu memberikan edukasi budaya yang berkelanjutan agar generasi muda benar-benar memahami filosofi di balik tradisi tersebut.